Monday, September 24, 2012

Kamu Mengerti Aku Mengerti Kamu

Begini.
Malam ini ada 3 lagu yang saya setel berulang-ulang memutar dirinya sendiri;
1. Noah - Separuh Aku
2. Guy Sebastian - Taller, Better, Stronger
3. Shannon Noll - Lift

Tapi. Lalu kemudian saya klik tombol yang memungkinkan lagu nomor 1 diputar berkali-kali. Ya. Saya punya kebiasaan membosankan; menunggu, mendengarkan lagu yang sama berkali-kali, dan memandangi benda tak bergerak sambil berkhayal. Sungguh, saya tak heran jika tak banyak yang tahan dengan cara saya "having fun" ini. Kebanyakan akan undur diri sebab merasa aneh. Atau malah makin dekat, sebab sama-sama aneh. You know, it takes a wicked to see a wicked. =D

Dan ya. Sebutlah ini random. Sebutlah saya bagian dari buih di lautan yang turut terseret ombak "Ariel is back!", tapi lagu Separuh Aku itu maknanya bisa dalam jika benar-benar direnungi! Serius! Lepas dari kontroversi kehidupan sosial-personal-nya, saya harus akui, Ariel dkk dalam Peterpan merupakan satu dari dua band Indonesia (satu lagi adalah Letto) yang lagu-lagunya tidak "murah" dalam hal diksi dalam lirik-liriknya, melodi, dan makna yang bisa diungkap oleh pendengarnya. Sejauh ini, saya belum menemukan band lain yang berhasil mengusik saya kecuali dua band itu saja.

Dan terjadi lagi, kisah lama yang terulang kembali.
Kau terluka lagi, dari cinta rumit yang kaujalani.
Aku ingin kau merasa kamu mengerti aku mengerti kamu.
Aku ingin kau sadari cintamu bukanlah dia.

Saya membayangkan, seolah ada seorang sahabat yang memandang iba pada seorang sahabatnya yang sedang patah hati. Patah hati sebab terlalu naif menjalani hidup dan mencari satu yang meneduhi. Benar-benar jiwa yang putus asa. Mengelana dunia demi sepotong pengakuan yang diperebutkan milyaran manusia setiap harinya; cinta.

Ku ada di sini.
Pahamilah kau tak pernah sendiri.
Karena aku slalu di dekatmu saat engkau terjatuh.

Betapa kadang kita menggerayang dunia luar seluas-luasnya, dan kita lupa menghargai mereka yang ada di sisi kanan-kiri kita. Padahal, kadang, ada banyak kasih sayang dan kerinduan yang berteriak kencang-kencang di daun telinga kita. Mencoba meminta perhatian kita. Setelah mereka selalu menyuapkan nasi dan lauk energi bagi hati kita yang terlena dengan dunia di luar sana. Setelah mereka senantiasa mengelap peluh atas lelah kita bergerilya mencari nafas baru di luar sana. Namun demikian, masih saja kita tetap memegang tombak erat, berburu bibit-bibit cinta yang berkelabat. Buta tuli bisu pada yang sangat mengerti kita mengerti dia.

Dengar laraku.
Suara hati ini memanggil namamu.
Karena separuh aku, dirimu.

Mungkin kita terlewat mendengar suara hatinya. Suara kalbunya yang memohon sedikit saja perhatian kita. Bagi mereka yang selama ini mencintai kita dengan separuh hidupnya. Melupakan kebahagiaannya. Tak gubriskan kepentingan dirinya. Demi kita.

Dan kita tetap saja tak sadar. Sementara mereka terus menyanyi tanpa lelah. Untuk kita.

Hari ini saya mulai melihat nilai lagu ini lebih dalam. Seperti ada banyak orang yang menyanyikan lagu ini pada saya. Seperti saya tak lagi peka. Tak sensitif dalam menyicipi cinta. Tak bersyukur atas hati-hati yang memeluk saya dengan kasih sayang mereka. Keluarga. Orang tua. Sahabat. Saudara. Saudari. Ya, bahkan nurani saya sendiri.

Lalu saya pikir, saya perlu pelankan sedikit langkah dan hargai bunga-bunga yang tumbuh di sepanjang jalan tapak. Rasakan kehadiran angin, kupu-kupu, cerahnya matahari, goyangnya rerumputan, birunya angkasa. Semua bagian dari perjalanan yang tertangkap kelima indera saya saja. Syukuri dan cintai semuanya. Saya mulai merasa separuh jiwa saya yang hilang terisi pelan-pelan. Membentuk damai. Merasa tidak sendiri. Sebab Allah selalu punya cara menghibur-Nya sendiri bukan?

Dengar laraku.
Suara hati ini memanggil namamu.
Karena separuh aku, menyentuh laramu.
Semua lukamu tlah menjadi milikku.
Karena separuh aku, dirimu.

Indah ya, ketika semua luka kita menjadi luka yang lain atau sebaliknya. Dan bukankah itu makna dari takaful; rukun keempat ukhuwwah? Sepenanggungan. Saling merasakan beban satu sama lain. Dan itu, cuma milik mereka yang menyatukan tangan demi satu ikatan yang disaksikan oleh Allah, dipelihara oleh Allah, dan dipisahkan juga oleh Allah; rabithah.

Hei, jangan lagi merasa gundah sendiri. Sini, bagi. :")

Kamu mengerti aku mengerti kamu. Sebab saling memahami itu bukan satu arah, melainkan DUA.


Lamkeuneung. 24 September 2012.

4 comments:

  1. ehm,,
    sang hayeu that :D :P
    Karena separuh aku, dirimu.

    ReplyDelete
  2. :) wow... aq blmp pernahhh dgar.. donload ah :)

    ReplyDelete
    Replies
    1. Interpretasi lagu adalah tanggung jawab masing-masing pendengar yaa hehe. Selamat mendengar. ;)

      Delete